Anak Berbakat

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Secara yuridis formal layanan pendidikan bagi anak telah mendapat temoat di dalam sistem pendidikan nasional. Undang-undang No. 2/19879 tentang Sistem pendidkan Nasional pasal 8 ayat (1) dan (2) menyatakan bahwa:
(1). Warga negara yang memiliki kelainanan fisik dan/atau berhak memperoleh pendidikan luar biasa.
(2). Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus.
Landasan hukum akan perlunya pemberian perhatian khusus kepada peserta didik yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (berbakat) memperkuat asumsi bahwa kelompok peserta didik tersebut memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda dari peserta didik yang berkemampuan dan memiliki kecerdasan normal.
Anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan di atas normal bukan berarti tidak memiliki masalah dalam kehidupannya, terkadang tidak seimbangnya pertumbuhan kognitifnya dengan pertumbuhan fisik. Bagaimanakah perkembangan kognitif anak berbakat? Bagaimanakah perkembangan sosial anak berbakat? Apa saja masalah dan dampak keberbakatan?
PEMBAHASAN
A. HAKEKAT ANAK BERBAKAT
Istilah kemampuan dan kecerdasan luar biasa ini dipadankan dengan istilah “gifted” atau berbakat. Istilah anak berbakat yang diterjemahkan dari “gifted child” dapat berarti genius, bright, creative, dan talented. Jadi definisi anak berbakat belum memiliki definisi tunggal, sehingga sulit merumuskan siapa anak anak berbakat itu?
Semua sebutan ini merujuk kepada adanya keunggulan kemampuan yang dimiliki seseorang. Satu cirri dari anak berbakat adalah memiliki kecerdasan yang lebih tinggi dari anak normal, sebagaimana diukur oleh alat ukur kecerdasan (IQ) yang sudah baku. Pada mulanya memang tingkat kecerdasan (IQ) dipandang sebagai satu-satunya ukuran anak berbakat. Pandangan ini disebut pandangan berdimensi tunggal tentang anak berbakat.
Sementara pandangan lain cenderung menekankan keberbakatan harus didekati dari dimensi ganda, menurut pandangan ini keberbakatan tidak hanya ditinjau dari segi kecerdasan tapi juga dilihat dari segi prestasi, kreativitas, dan karakteristik pribadi. Untuk memahami sifat ganda dari keberbakatan, para ahli mencoba mengklasifikasi definisi keberbakatan. Lucito mengklsifikasikan definisi keberbakatan kedalam definisi:
a. Ex post facto, yang didasarkan atas penampilan prestasi luar biasa dalam bidang tertentu .
b. Intelligence-test, yang didasarkan atas skor IQ setelah diukur oleh tes kecerdasan.
c. Social, yang didasarkan atas kecakapan-kecakapan yang secara sosial dapat disetujui (diterima).
d. Precentage, yang didasarkan atas persyaratan masyarakat akan jumlah orang berbakat yang dikehendaki untuk memainkan peran-peran khusus.
e. Creativity, yang didasarkan atas prilaku dab/atau kerja sebagaimana diukur oleh pengukuran kreativitas.
Dengan menggunakan sudut pandang berdimensi ganda keberbaktan merujuk kepada anak yang menunjukkan kemampuan unjuk-kerja yang tinggi da dalam aspek intlektual, kreativitas, seni, kepemimpinan, atau bidang akademik tertentu. Konsep anak berbakat itu lebih mengacu kepada konsep berdimensi ganda maka penggunaan istilah anak berbakat di Indonesia lebih tepat daripada menggunakan istilah lain, seperti anak cerdas dan cemerlang.
Menurut Renzulli merumuskan konsep pemikiran bahwa keberbaktan itu terbentuk dari hasil interaksi tiga kluster aspek penting, yaitu: kecakapan di atas rata-rata, komitmen tugas yang tinggi, dan kreativitas.
Gambar 1.1 Model keberbakatan dari Renzulli
Kemampuan
di atas rata-rata

kreativitas komitmen
terhadap kerja
keberbakatan
Gambar di atas menunjukkan keterpaduan semua dimensi keberbakatan, yakni kecakapan intelektual, prestasi akademik, kreativitas, dan bakat, serta aspek sosial.

1. Masalah krativitas dan Keberbakatan
Tingkat kecerdasan bukanlah satu-asatunya predikator akurat bagi prestasi akademik seseorang. Kreativitas dan keberbaktan adalah dua hal yang dapat dibedakan tetapi amat erat kaitannya. Beberapa ilmuan menyebutkan bahwa di dalam keberbaktan itu terdapat komponen penting yang disebut kreativitas, walaupun terdapat perbedaan diantara keduanya. Kreativitas jauh lebih luas dibandingkan dengan kecakapan umum .
Dalam kaitannya dengan proses berfikir kreatif, konsep berfikir dapat dibagi menjadi dua: yang pertama, konsep berfikir konvergen (convergent production)dan yang kedua, berfikir divergen (divergent production).
Proses berfikir konvergen adalah berfikir linier, terarah pada proses, mempersempit alternatif untuk mencari satu jawaban yang benar. Proses berfikir divergen adalah proses berfikir terarah kepada berfikir alternatif, bahwa persoalan tersebut dapat dilihat dan difikirkan dari sudut pemikiran dari cara-cara konvensional.

2. Karakteristik Umum Anak Berbakat
Hasil penelitian, pengamatan, maupun pengalaman menunjukkan bahwa anak berbakat memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda dari anakpada umumnya. Karakteristik dan kebutuhan itu mengcajup aspek-aspek: intelektual, akademik, kreativitas, kepemimpinan, dan sosial, seni, afeksi, sensori fisik, intuisi, dan ekologis.
B. PERKEMBANAGAN FISIK ANAK BERBAKAT
Beberapa kasus menunjukkan bahwa secara fisik anak berbakat cenderng lebih kuat, lebih besar, dan lebih sehat dari anak-anak normal. Reaksi fisik terjadi lebih cepat dan lebih awal dari anak-anak biasa karena secara intelektual dia lebih mampu menyerap informasi dan stimulus dari luar.perkembangan psikomotorik dan kemampuan koordinasi anak berbakat cenderumng lebih cepat dari rata-rata.
Pendeteksian apakah seorang anak berbakat atau tidak, dapat dilihat dari perkembangan motoriknya. Anak berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak pada umumnya, baik dalam berbicara, berjalan, maupun membaca. Misalnya, umur 9 bulan sudah bisa jalan (normalnya, usia 12,5 bulan). Selain itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna. Untuk kemampuan membaca, kadang anak berbakat memperolehnya dari belajar sendiri. Yaitu dari mengamati dan menghubung-hubungkan. Misalnya dari memperhatikan lalu-lintas, tv, atau buku.
Anak berbakat juga senang bereksplorasi atau menjajaki. kalau ia mempreteli barang-barang, bukan karena dia nakal tapi karena rasa ingin tahunya. Hal lain yang menjadi karakteristik anak berbakat ialah bicaranya bisa sangat serius. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga. Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain.
Masalah yang mungkin terjadi pada anak berbakat berkaitan dengan perkembangan fisiknya adalah anak dengan kecakapan intelektual tinggi mungkin sangat rawan terhadap karakteristik “Cartesian split”antara pikiran dan keadaan; kekurangpaduan antara “mind and body”.
Anak berbakat selama usia sekolah sangat mungkin mengalami kesenjangan antara perkembangan fisik dan intelektual, dan sekolah secara tidak sengaja menghambat aktifitas fsik mereka. Apabila perkembangan intelektual lebih cepat daripada perkembangan maka, anak akan merasa merasa tidak adekuat secara fisik, dan jika tuntutan sensasi fisik kurang menantang secara intelektual akan menjadikan anak berbakat kurang tertarik dan dan tidak akan memperoleh kepuasan melakun kompetisi di dalam kelompoknya.

C. PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK BERBAKAT
Para ahli dengan hail penelitiannya menunjukkan bahwa secara biologis struktur otak anak berbakat berbeda dengan anak normal. Anak berbakat mampu memfungsikan otak dua belah otak (otak kiri dan otak kanan) sebagai alat berfikir dan seluruh fungsi lain (rasa, pengindraan, dan intuisi) secara terintegrasi sehingga mewujudkan prilaku kreatif.
Hasil penelitian Hewit dan Kitano menemuka bahwa anak berbakat secara intelektual menunjukkan kemampuan berfikir analitis, integratif, dan evaluatif, berorientasi pemecahan masalah, kemampuan verbal yang tinggi, serba ingin sempurna, memilii cara lain dalam memahami dan mengolah informasi.
Treffinger mengemukakan sejumlah karakteristik unik anak berbakat ialah bahwa anak berbakat memiliki karakteristik berikut:
1. Rasa ingin tahu yang tinggi (Curiosity)
2. Berimajinasi (Imagination)
3. Produktif (Productivity)
4. Independen dalam berfikir dan menilai
5. Mau mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan informasi dan mewujudkan ide-ide.
6. Memiliki ketekunan
7. Bersikukuh dalam menyelesaikan masalah
8. Berkonsentrasi ke masa depan dan hal hal-hal yang belum diketahui
Semua ciori perkembangan anak berbakat menunjukkan kemudahan yang dimilikinya dalam belajar. Semua ciri ini hendaknya tidak menjadikan kita berfikir bahwa anak berbakat akan selalu mudah untuk menjadi siswa terpadandai di kelasnya. Apabila karakteristik tersebui tidak tersalurkan sebagaimana mestinya, sehingga muncul masalah-masalah perkembngan berupa: kebosanan terhadap pelajaran reguler, kesulitan hubungan sosial dalam kelompok seusia, dipandang sombong sombong oleh kawan sebayanya, frustasi karena ia harus menjadi penunggu.
Perkembangan kognitif anak berbakat juga disertai dengan perkembangan kemampuan intuitif yang akan mengarah kepada pemunculan prilaku kreatif. Kreatif adalah ekspresi tertinggi dari keberbakatan. Anak berbakat menunjukkan prilaku kreatif seperti: selalu bertanya dan bertanya, melakukan dengan aranya sendiri, lebih menyukai bekerja sendiri, aktif berimajinasi, cakap dalam menyelesaikan masalah, peka terhadap keindahan, dan kegiatan seni lainnya.
Kaitan intuisi dengan prilaku kreatif ialah fungsi intuisi berperan dalam pemunculan inisiatif, imajinasi, dan wawasan bertindak yang mengarah pada prilaku kreatif. Keunikan intuisi anak berbakat ditandai dengan kecenderungan untuk terlibat dan peduli terhadap pengetahuan intuitif dan fenomena-fenomena metafisik. Karena anak berbakat menunjukkan prilaku sulit diterima oleh kelompoknya sehingga menimbulkan cemoohan dari sesamanya.
Karena anak berbakat memiliki karakteristik dan masalah seperti diatas, maka kebutuhan program pendidikan dalam mengembangkan aspek kognitif, berkaitan dengan beberapa kebutuhan yaitu: penyajian informasi baru dan menantang, akses terhadap kurukulum dan kehidupan yang menantang. Pengkajian berbagai mata ajaran dan kepedulian, dan pemecahan masalah dalam berbagai cara.
D. PERKEMBANGAN EMOSI ANAK BERBAKAT
Karakteristik kemampuan kognitif tinggi pada anak berbakat dan kepekaannya terhadap dunia sekitar menjadikan anak berbakat memiliki akumulasi informasi yang banyak. Dengan fungsi kognitifnya, dia mampu mengolah informasi dan menumbuhkan kesadaran akan diri dan dunianya, sehingga menjadikan anak berbakat menunjukkan perkembangan emosi yang lebih matang dan stabil.
Di sisi lain, karakteristik kognitif yang tinggi belum tentu disertai dengan terjadinya perkembangan emosi yang tinggi pula . anak berbakat sering kali menunjukkan harapan yang tinggi terhadap dirinya maupun orang lain, dan karena harapan ini tidak disertai dengan kesadaran diri, maka tidak jarang membawa menjadikan dirinya frustasi.
Dilihat dari segi perkembangan emosi maka dalam pendidikan anak berbakat seyogyanya terakomodasi kebutuhan yang berkenaan dengan : proses kognitif yang memberikan pengalaman emosional yang bermakna, klarifikasi perasaan dan harapan diri maupun maupun orang lain, dan pemahaman perwujudan komitmen dalam tindakan nyata.
E. PERKEMBANGAN SOSIAL ANAK BERBAKAT
Anak berbakat cenderung menunjukkan kematangan sosial dan kemampuan kepemimpinan yang lebih awal atau lebih tinggi dari anak-anak normal. Kecenderungan menunjukkan bahwa perkembangan sosial anak berbakat lebih baik daripada anak normal pada umumnya.
Karakteristik perkembangan sosial anak berbakat menimbulkan prilaku bermasalah seperti frustasi atas perasaan-perasaan yang tak tertantang, potensi kepemimpinan yang tak berkembang karena mungkin tidak memperoleh kesempatan, kecenderungan mengambil pemecahan masalah secara tepat tanpa memperhitungkan kompleksitas masalah.
Pendidiokan anak berbakat hendaknya mengkomodasikan kebutuhan akan: pemahaman tuntutan aktualisasi diri, penyaluran dorongan-dorongan yang divergen, keterlibatan dalam masalah-masalah sosial, pemahaman kepemimpinan, dan hal-hal lain yang memungkinkan peserta didik mengeksplorasi berbagai kesempatan kesempatan yang ada di masyaarakat serta cara-cara bagaimana memberikan kontribusi pada masyarakat.
F. IDENTIFIKASI ANAK BERBAKAT
Pendekatan dimensi ganda dalam memahami keberbakatan menimbulkan masalah tersenfiri dalam identifikasi anak berbakat, baik mengenai kriteria keberbakatan maupun teknik dan alat identifikasi. Apabila ditelaah kembali ternyata karakteristik tersebut erat sekali kaitannya dengan kemampuan intelektual, oleh karena itu merupakn hal yang logis jika identifikasi anak berbakat diawali dengan pengujian kemampuan intelektual. Teknik identifikasi anak berbakat yang dapat dilakuakn di sekolah.
a. Penggunaan tes kecerdasan
b. Studi kasus
Prestasi akdemik dan prilaku-prilaku nonakademik, dapat dijadikanindikator dari keberbakatan seseorang. Dengan menggunakan kriteria ini guru dapat melakukan observasi dan memperkirakan anak tersebut kemungkinan sebagai anak berbakat.
Di lain pihak Ike R. Sugianto menegaskan bahwa tidak ada tes yang bisa dilakukan untuk mengidentifikasi bakat anak. Tes IQ tidak digunakan untuk melihat minat dan bakat anak. Sesuai dengan namanya, tes ini lebih diarahkan kepada pengukuran intelektual (intelligency Quotient). Sedangkan tes minat dan bakat yang dilakukan dengan battery psikologi, lebih tepat dikenakan pada anak-anak diatas tingkat SMP untuk penjurusan atau memantapkan pemilihan studi di perguruan tinggi. Jadi yang perlu dilakukan oleh orangtua bukanlah mengidentifikasi bakat apa, tetapi memperhatikan minat anak dengan memperkenalkan secara bertahap pada anak .
G. MASALAH-MASALAH DAN DAMPAK KEBERBAKTAN
Keberbaktan bulkanlah sesuatu yang tidak menimbulkan masalah, tetapi terkadang menimbulkan masalah, baik bagi individu sendiri, keluarga, masyarakat, maupun bagi penyelenggaraan pendidikian.
1. Masalah dan Dampak Bagi Individu
a. kecepatan perkembangan kognitif yang tidak sesuai dengan perkembangan dan kekuatan fisik, sehingga terjadi kesenjangan di antara keduanya, dapat menimbulkan perasaan tidak adekuat pada diri anak.
b. Perkembangan kognitif anak berbakat lebih cepat dari teman seumurny, sehingga menimbulkan kebosanan terhadap pengajaran reguler, kesulitan hubungan sosial.
c. Kemapuan anak berbakat untuk menyerapdan menghimpun informasi yang tidak diimbangi dengan perkembangan emosi dan kesadaran dapat menimbulkan ketidakstabilan perkembangn emosi.
2. Masalah dan Dampak Bagi Keluarga
Orang tua yang tidak memahami dan menyadari potensi yang dimilki anaknya cenderung tidak peduli dan merespon prilakunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: